Berjuang itu Lillahi Ta’ala !!

Setiap aktivitas gerakan yg dilakukan aktivis perjuangan Islam, haruslah dilandasi motif panggilan Ilahi, untuk memperoleh keridhaan dan kecintaan-Nya. Berjuang dijalan Allah dalam makna sebenarnya menurut penulis kitab Hayatu Muhammad, Dr. Husen Haekal, adalah memerangi mereka yg membuat fitnah, dan mereka yg membujuk si Muslim murtad dari agamanya, atau menghalangi dari jalan Allah.

Berjuang pada jalan Allah juga berarti berjihad untuk kebebasan da’wah Islamiyyah. Atau perang untuk mempertahankan cita2, dengan senjata yg seimbang dengan yg dipergunakan oleh pihak yg memerangi cita2 itu. Dan apabila ada seorang yg hendak membujuk orang lain, dengan jalan propaganda dan logika, tanpa memaksanya dengan atau tanpa kekerasan (melalui cara2 suap-menyuap) atau penyiksaan dengan maksud supaya orang tersebut meninggalkan cita2nya, maka cara yg tepat untuk menghadapinya adalah dengan jalan menggugurkan argumentasi dan logikanya tadi. Jadi, hujjah harus dilawan dengan hujjah, senjata harus pula dihadapi dengan perlawanan bersenjata. Artinya, apabila dalam menghadapi cita2 dan keyakinannya itu lawannya menggunakan kekerasan senjata, maka harus dilawan dgn kekerasan senjata pula, jika si Muslim memang mampu berbuat demikian.

Seorang Muslim yg meyakini kebenaran agama Islam sudah semestinya berani membela dan memperjuangkan tegak dan tersebarnya kebenaran trsebut, meskipun harus dgn mengorbankan harta dan nyawanya. Jika tidak demikian, ia bohong dengan pengakuan imannya dan bimbang dgn apa yg dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Allah Swt telah berjanji didalam Al-Qur’an bahwa orang2 beriman akan memperoleh tempat khusus dan istimewa di akhirat kelak, manakala mereka beriman, berhijrah, berjihad, berani menderita pada jalan-Nya, diusir dari kampung halaman dan dipisahkan dari orang2 yg dicintainya karena menegakkan dinullah.

Kesediaan untuk mati karena iman merupakan ujian terpenting bagi seseorang yg mengaku sebagai mukmin. Farid ad-Din Athtar, penyair Persia dan sufi terkenal dalam bukunya Manthiq at-Thayr (Musyawarah burung2), menulis: ‘Ia yg tunduk pada kepatuhan dijalan Allah, trbebas dari tipu daya dan terhindar dari banyak kesulitan. Sesaat mengabdi pada Rabb, menurut hukum yg benar, sama artinya mengabdi seumur hidup kepada dunia. Ia yg menerima penderitaan, karena tidak melakukan usaha apa pun, sama artinya dgn anjing sesat yg harus mengikuti keinginan orang yg lalu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s